Kampung Batik Giriloyo, tempat kami belajar bahwa kain yang baik butuh waktu — bukan jalan pintas.
Ibu kami membatik sejak kecil, mengikuti ajaran nenek. Awalnya kain hanya dibuat untuk hajatan keluarga dan tetangga. Pada 2011, kami mulai berani membuka pesanan sendiri dan memberi nama usaha ini Sekar Wangi — "bunga yang harum", harapan supaya batik kami dikenal lewat baunya perubahan, bukan sekadar gambarnya.
Hari ini kami tetap workshop kecil. Tidak ada mesin cetak besar; yang ada dua belas tangan yang sabar mencanting satu titik demi satu titik. Karena itu jumlah kain per bulan terbatas, dan itu memang kami jaga.
Motif digambar dulu di atas kain dengan pensil, mengikuti pola yang diwariskan secara turun-temurun.
Garis motif ditutup lilin malam panas memakai canting, supaya warna tidak menembus bagian yang harus tetap putih.
Kain dicelup ke larutan warna. Soga kami dibuat dari campuran kulit tingi, jambal, dan tegeran.
Lilin dilepas dengan air mendidih. Setelah itu kain dijemur, dilipat, dan siap dikirim ke tangan Anda.
Membatik sejak usia 14 tahun. Memegang motif Sekar Jagad yang paling rumit.
Menyiapkan larutan soga dan mengatur warna agar setiap kain tidak persis sama — itu tanda buatan tangan.
Mengubah lembar kain menjadi kemeja, blus, dan tas, lalu mengemasnya sebelum dikirim.
Kami memakai pewarna sintetis hanya ketika pesanan membutuhkan warna yang tidak bisa dihasilkan bahan alam.
Sebagian besar harga kain kembali ke tangan pembatik, bukan ke perantara.
Batik tulis butuh sekitar seminggu. Kami memilih menolak pesanan daripada mengirim hasil cepat yang asal jadi.
Anda boleh datang ke workshop kami di Giriloyo. Sebelum berkunjung, kabari dulu supaya kami siapkan kain untuk Anda lihat.
Atur kunjungan via WhatsApp